Sosok Inspiratif dari Semarang: Sri Irdayati, Perempuan Muda yang Mengajarkan Bisnis Sejak Dini

Sosok Inspiratif dari Semarang: Sri Irdayati, Perempuan Muda yang Mengajarkan Bisnis Sejak Dini

Semarang – Indonetizen.id | Sri Irdayati, seorang perempuan berusia 25 tahun, telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama dalam dunia pendidikan dan kewirausahaan. Lulusan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, ini menciptakan sebuah inovasi yang tak biasa: mengajarkan keterampilan bisnis kepada anak-anak sejak usia dini. Terinspirasi oleh karakter Richie Rich, tokoh kartun bocah kaya raya putra miliuner Amerika Serikat, Irda bertekad mencetak wirausahawan cilik melalui kelas bisnis yang ia gagas. Baginya, mengajarkan dunia usaha dan manajemen tak harus menunggu dewasa, bahkan bisa dimulai di tingkat sekolah dasar.

Kecintaan Irda pada tokoh Richie Rich dimulai sejak ia masih kecil. Tokoh kartun tersebut menggambarkan seorang anak yang terampil dalam memanfaatkan kekayaan dan kekuasaannya dengan bijak, menjadi inspirasi bagi Irda untuk memahami pentingnya kemampuan mengelola sumber daya sejak dini. “Dunia usaha dan manajemen perlu diajarkan, meski kepada siswa sekolah dasar,” ucap Irda dengan penuh semangat. Bagi Irda, anak-anak memiliki potensi besar dalam mengembangkan keterampilan wirausaha yang bisa mereka terapkan di masa depan.

Kini, Irda telah membawa gagasannya ke Jakarta. Bersama suaminya, Dedi Purwanto, yang juga seorang pengajar kursus Bahasa Inggris, Irda membuka kelas bisnis di rumah kontrakan mereka di Kelurahan Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Kelas bisnis yang ia jalankan tak memungut biaya, sepenuhnya gratis, dan ditujukan bagi anak-anak berusia 6-12 tahun. “Kelas saya gratis,” ujar Irda dengan rendah hati. Ia meyakini bahwa pendidikan kewirausahaan harus bisa diakses oleh semua kalangan, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Dalam kelas tersebut, tujuh anak dilatih untuk menyiapkan sebuah usaha sederhana, yaitu pembuatan aksesori manik-manik. Selain keterampilan manual seperti merangkai manik-manik menjadi gelang dan kalung, anak-anak juga diajarkan membuat neraca keuangan untuk menghitung modal, keuntungan, dan kerugian. Irda menekankan pentingnya perencanaan dan strategi bisnis. Ia pun mengajarkan anak-anak tersebut bagaimana cara berbelanja bahan baku yang efektif, mengatur harga jual, serta memperkirakan margin keuntungan. Semua peserta kelas, termasuk Irda sendiri, diberikan predikat sebagai “bos,” seakan menyiapkan mereka untuk menjadi orang-orang sukses di masa depan.

Metode pengajaran yang diterapkan Irda sangat interaktif dan menyenangkan. Anak-anak diajak belajar sambil bermain, menjadikan pengalaman tersebut lebih bermakna. Irda tidak hanya mengajarkan teori ekonomi, namun juga melibatkan anak-anak secara langsung dalam praktik. Dari mulai merencanakan ide usaha, membuat produk, hingga menyusun laporan keuangan, anak-anak diajarkan pentingnya disiplin dan kerja keras dalam berwirausaha. Ia percaya bahwa pengalaman langsung ini akan memberikan wawasan yang luas bagi para peserta didiknya.

Irda juga memberikan kebebasan bagi setiap anak untuk berkreasi dalam pembuatan produk manik-manik mereka. “Mereka harus bisa mengembangkan kreativitas masing-masing,” tuturnya. Menurut Irda, selain kemampuan manajemen keuangan, wirausahawan juga harus memiliki daya cipta yang tinggi agar produknya bisa bersaing di pasar.

Visi besar Sri Irdayati tidak hanya berhenti di satu kelas kecil ini. Ia bercita-cita bisa mengembangkan program pengajaran bisnis bagi anak-anak di berbagai wilayah, terutama di daerah terpencil yang minim akses terhadap pendidikan formal kewirausahaan. Irda yakin bahwa jika anak-anak diajarkan sejak dini tentang dunia usaha, mereka akan tumbuh menjadi generasi mandiri yang tidak hanya mengandalkan pekerjaan kantoran, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja untuk orang lain.

Irda ingin agar program ini bisa memberikan dampak lebih luas, khususnya dalam memberdayakan anak-anak yang berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah. “Saya ingin anak-anak ini punya bekal, mereka bisa menghidupi dirinya sendiri dan membantu keluarga mereka ketika dewasa nanti,” ujarnya dengan optimis.

Perjalanan Irda dalam membangun kelas bisnis ini tidak selalu mudah. Bersama suaminya, ia harus mengatur keuangan rumah tangga dengan cermat agar bisa tetap menjalankan kelas gratis tersebut. Namun, dengan semangat pantang menyerah, mereka berhasil mengatasi berbagai rintangan. Dukungan dari keluarga besar dan tetangga di sekitar rumah kontrakan mereka juga menjadi salah satu pendorong utama bagi Irda untuk terus melanjutkan misi sosialnya.

Suaminya, Dedi Purwanto, turut memberikan dukungan penuh atas inisiatif ini. Meski Dedi sibuk dengan kursus Bahasa Inggris yang ia kelola, ia selalu siap membantu Irda dalam menjalankan kelas bisnisnya. Kebersamaan dan kerja sama antara Irda dan Dedi adalah bukti bahwa pendidikan dan pemberdayaan masyarakat bisa dimulai dari hal kecil yang dilakukan bersama-sama.

Sri Irdayati adalah sosok inspiratif yang tak hanya bermimpi, tetapi juga mewujudkan mimpinya dalam tindakan nyata. Ia membuktikan bahwa kewirausahaan bisa diajarkan sejak usia dini, dan anak-anak memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Dengan semangatnya yang tak kenal lelah, Irda telah membuka jalan bagi generasi muda untuk menjadi wirausahawan yang tangguh di masa depan.

Melalui kelas bisnis gratis yang ia dirikan, Irda bukan hanya memberikan pengetahuan tentang manajemen dan keuangan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kerja keras, kreativitas, dan kemandirian kepada anak-anak. Keberaniannya untuk memulai dari lingkup kecil menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil namun penuh tekad. Sosoknya menginspirasi kita semua untuk memberikan dampak positif kepada lingkungan sekitar, tak peduli seberapa besar tantangan yang dihadapi.

Tinggalkan Balasan