Bazar Dadakan Warnai Kemacetan Panjang di Alasbuluh, Wongsorejo

Bazar Dadakan Warnai Kemacetan Panjang di Alasbuluh, Wongsorejo

Banyuwangi — indonetizen.id | Kemacetan panjang yang terjadi sejak dini hari di jalur utama Kecamatan Wongsorejo, tepatnya di Desa Alasbuluh, membawa berkah tak terduga bagi sebagian warga. Di tengah antrean kendaraan yang mengular, muncul bazar dadakan yang sukses menyedot perhatian para sopir dan penumpang yang terjebak macet.

Sejak pukul 02.00 WIB, arus kendaraan dari arah Situbondo menuju Banyuwangi tersendat parah. Informasi dari pengendara menyebutkan, kemacetan ini disebabkan oleh pengaturan buka tutup dipelabuhan akibat sebagian Armada kapal tidak beroperasi. Hingga pagi menjelang, antrean belum juga mencair.

Namun, di balik situasi yang membuat banyak pengemudi mengeluh, terselip cerita berbeda dari seorang warga bernama Surip (45). Pemilik lapak sederhana yang biasa berjualan jajanan kue pagi ini mengaku mendapat rezeki berlimpah.

Alhamdulillah ada berkah dalam kemacetan ini, Mas. Biasanya saya cuma jualan jajanan kue, tapi karena macet panjang, saya tambahin nasi bungkus di meja lapak. Laris manis!” ujar Surip dengan wajah sumringah saat ditemui di lokasi, Kamis (31/7) pagi.

Surip menata lapaknya di tepi jalan, memanfaatkan situasi tak biasa ini. Aneka nasi bungkus mulai dari isi telur, daging  hingga sambal teri tersaji rapi di meja kayu kecil. Aroma sedap nasi bungkus dan kue tradisional menggoda pengendara yang perutnya mulai keroncongan.

Tak butuh waktu lama, dagangannya diserbu. Para sopir dan penumpang turun satu per satu untuk membeli sarapan. “Suasana pagi memang bikin lapar. Dari pada cuma duduk di mobil, mending isi perut dulu,” ujar Narto (38), sopir boks yang ikut menghampiri lapak Surip.

Bagi Narto, momen ini bukan hal baru. “Sudah dua kali saya kena macet parah di Wongsorejo. Tapi kali ini lumayan lama. Mobil saya nggak gerak sejak jam dua dini hari,” ungkapnya sambil menyesap kopi hitam yang baru saja ia beli.

Narto bercerita, ritual ngopi dan ngudut (merokok) jadi penghibur di tengah penantian. “Daripada emosi, mending ngopi. Apalagi ada nasi bungkus, perut aman,” candanya.

Tak hanya Surip, beberapa warga lain juga memanfaatkan momen ini. Lapak-lapak kecil bermunculan menawarkan minuman hangat, kopi, hingga rokok eceran. Fenomena bazar dadakan ini menambah warna di tengah antrean kendaraan yang seolah tak ada ujungnya.

“Kalau begini ya kita ikut ambil peluang. Siapa tahu rezeki,” kata seorang pedagang kopi keliling yang enggan disebut namanya.

Para pengemudi mengaku senang dengan adanya penjual makanan di lokasi macet. “Kalau nggak ada mereka, mungkin kita kelaparan. Apalagi macetnya dari malam,” ucap Joko, sopir truk yang ikut antre.

Hingga berita ini diturunkan, arus lalu lintas di Desa Alasbuluh masih padat merayap. Polisi lalu lintas setempat terlihat berupaya mengurai kemacetan, namun antrean kendaraan yang mengular hingga beberapa kilometer membuat pergerakan sangat lambat.

Sementara itu, bagi para pedagang kecil seperti Surip, kejadian ini menjadi berkah tak terduga. “Semoga cepet lancar ya, kasihan juga yang terjebak macet. Tapi kalau soal dagangan, Alhamdulillah rezeki datang dari arah yang nggak disangka-sangka,” pungkasnya sambil melayani pembeli.

Tinggalkan Balasan