Adhzan Yang Tiga Hari Tidak Berkumandang

Adhzan Yang Tiga Hari Tidak Berkumandang

Pagi hari diawal bulan kemerdekaan, cuaca dingin sebenarnya membuatku malas beranjak dari tempat tidur.

Namun aroma kopi sachet yang hanya seharga seribuan bikinan istriku benar-benar menggoda hingga membuatku terpaksa bangun untuk menikmatinya.

Kuseruput kopi dan kuambil sebatang rokok bermerk aneh tanpa cukai yang kubeli kemarin diwarung kecil pinggiran hutan, dibawah gunung tepi pantai laut selatan.

Yang kini gunung itu tak lagi terlihat agung karena emasnya telah habis ditambang oleh orang-orang serakah dengan dibantu para oknum pejabat bangsat demi keuntungan pribadi yang pongah.

Kemudian, kunyalakan rokokku dan kuhisap dalam-dalam asapnya agar sedikit bisa melupakan derita yang dirasakan warga yang semestinya berhak atas melimpahnya emas yang ada digunung itu.

“Mbahkung bangun, antarkan aku ke sekolah, aku takut terlambat karena tadi bangunku kesiangan,” teriak Nduk Arra ,cucu perempuan kesayanganku, yang saat ini sudah kelas 6 SD.

“Kenapa kamu bisa bangun kesiangan nduk? Bukankah tiap hari kamu selalu bangun untuk sholat Subuh di Masjid dekat rumah?,” balik tanyaku.

“Apa mbahkung tidak tahu, kalau sudah tiga hari ini tidak lagi terdengar Adhzan berkumandang dari Masjid? Itu yang bikin aku kesiangan, makanya sholatlah sebelum nanti Mbah disholatkan,” ucap Nduk Arra setengah mengomeliku.

Tapi waktu akan kutanya lagi kenapa Masjid tidak lagi mengumandangkan Adhzan, Nduk Arra sudah beranjak keluar dan menungguku diteras rumah.

“Ah, biarlah nanti ku tanyakan langsung ke marbot Masjid saja, kenapa sampai tiga hari Adhzan sudah tak lagi berkumandang,” gumamku seraya menstarter motor tuaku untuk mengantar cucuku kesayanganku itu pergi sekolah.

Sekembalinya mengantar Nduk Arra, ku sempatkan mampir ke Masjid dekat rumahku, tampak Ali, pemuda yang merupakan marbot tengah menyapu halaman Masjid.

Walaupun wajah Ali terlihat murung, tapi tetap saja terdengar nada sholawat terlantun dari mulutnya.

“Asalamualaikum Ali,” sapaku.

“Waalaikumsalam, ada apa Mbah kok tumben Simbah datang kesini,” balas Ali dengan mimik keheranan.

“Iya Ali, biarpun aku jarang ke Masjid, tapi aku selalu Sholat dirumah ketika Adhzan sudah berkumandang, aku kesini hanya ingin bertanya saja, kenapa sudah tiga hari ini tak kudengar lagi Adhzan dari Masjid ini?,” tanyaku.

Sebelum menjawab pertanyaanku, terlihat Ali menghela nafasnya dan dengan suara pelan namun nada sedikit tinggi dia berkata,” Aliran listrik Masjid diputus Mbah, kita dituding telah menyalahgunakannya,”.

Mendengar jawaban Ali, aku tak bisa berkata-kata, karena memang aku tidak tahu apa yang telah terjadi, hanya saja dalam benakku tersimpan sebuah tanya yang tak terlontar.

“Bukankah di negara ini hanya Kaum Komunis atau PKI yang dulu tega mengusik Masjid dan umat muslim dalam menjalankan ibadahnya???,”.

Mbah Tumis “25.

Tinggalkan Balasan