Doa yang Menembus Langit: Mbah Wardi, Jeruk Manis, dan Napas Baru CFD BCM

Doa yang Menembus Langit: Mbah Wardi, Jeruk Manis, dan Napas Baru CFD BCM

Oleh : Penikmat CFD BCM: Pagi yang Penuh Harapan di Pojok Blambangan

Minggu pagi, 3 Agustus 2025. Udara Banyuwangi terasa lebih hangat, bukan karena terik matahari, tapi karena rona bahagia yang terpancar dari wajah-wajah para pelapak Banyuwangi Creative Market (BCM). Mereka, para penjaga denyut ekonomi rakyat, kini bisa bernapas lega. Doa mereka akhirnya diijabah Sang Khalik. Pojok Blambangan, yang sempat terancam oleh kata “revitalisasi”, tetap menjadi ruang hidup mereka. Tidak ada lagi bayang-bayang pindah paksa. Tidak ada lagi kegelisahan menunggu nasib.

Seperti biasa, saya menjalani rutinitas yang entah sejak kapan menjadi kebiasaan: menyambangi dulur-dulur pelapak BCM. Di sana, suasana pagi ini terasa berbeda. Ada semangat baru. Semangat kemerdekaan yang seakan lebih cepat datang, meski tanggal 17 Agustus masih di depan mata. Pelapak menata dagangannya dengan senyum mengembang, seolah ingin berkata, “Inilah kemenangan kami.”

Di antara keramaian itu, pandangan saya tertuju pada sosok yang menggetarkan hati. Seorang lelaki sepuh, dengan wajah penuh kerut yang setia bercerita tentang perjalanan hidup. Tangannya sedikit gemetar saat melayani pembeli, namun tetap cekatan, bersih, dan rapi. Di sampingnya, sebuah sepeda tua menopang gerobak kecil berisi jeruk manis yang tampak segar menggoda. Namanya Suwardi—atau akrab disapa Mbah Wardi oleh para pelanggan setianya.

“Berapa sekilo, Mbah?” tanya saya sambil menatap jeruk-jeruk yang ditata rapi.

“Limo belas ewu, Mas,” jawabnya pelan, namun penuh wibawa.

Sambil memilih jeruk, saya melanjutkan obrolan ringan, yang ternyata berakhir menjadi renungan panjang. “Kenapa nggak ikut pindah ke CFD Ahmad Yani, Mbah?” tanya saya.

Jawabannya sederhana, tapi sarat makna. “Ora ngerti, Mas. Aku manut ketua, Mas Rahmat. Yen kudu pindah, yo tak pindah. Nanging saben bengi aku mung ndonga, mugi-mugi isih iso dodolan nang kene. Amargo ning kene wis akeh pelanggan. Iki panggonan uripku.”

Saya terdiam sejenak. Jawaban itu bukan sekadar kalimat, tapi potret nyata bagaimana kesederhanaan dan ketulusan hidup masih bertahan di tengah riuhnya kepentingan. Dalam wajah renta Mbah Wardi, saya melihat keteguhan seorang pejuang. Ia tidak tahu menahu soal gelombang kebijakan bernama “revitalisasi”, apalagi drama hearing di gedung DPRD yang belakangan sempat memanas. Namun, siapa yang tahu, mungkin doa-doa lirihnya setiap malam justru menembus langit. Doa yang kemudian menggerakkan hati para pengambil keputusan untuk berpihak pada rakyat kecil.

Kesederhanaan itu menampar ego saya yang seringkali mengeluh pada hal-hal sepele. Di usia senja, Mbah Wardi memilih tetap mencari rezeki sendiri. Tidak bergantung, tidak menyerah. Ia berjuang dengan tenaga yang tersisa demi mempertahankan martabat. Baginya, Pojok Blambangan bukan sekadar lapak dagang, tapi ruang hidup. Di sanalah ia menambatkan harapan, menenun cerita, dan menjaga harga diri.

Di balik hiruk-pikuk kebijakan dan wacana “penataan kota”, ada wajah-wajah yang kerap luput dari sorotan: wajah-wajah pelapak seperti Mbah Wardi. Mereka adalah simpul kecil dari jaringan besar ekonomi kerakyatan yang menopang kehidupan banyak orang. BCM bukan hanya ruang transaksi, tapi juga ruang sosial, tempat lahirnya solidaritas dan gotong royong.

Menyaksikan Mbah Wardi, saya jadi teringat kembali pada makna kemerdekaan. Bagi sebagian orang, kemerdekaan adalah tentang kedaulatan bangsa, tentang merah putih yang berkibar gagah. Tapi bagi Mbah Wardi, kemerdekaan adalah hak untuk tetap berdagang di pojok Blambangan. Hak untuk hidup tanpa rasa was-was diusir dari ruang penghidupannya.

Momen pagi ini menegaskan satu hal: perjuangan bukan hanya milik mereka yang bersuara lantang di ruang rapat. Perjuangan juga milik mereka yang berdoa dalam diam, yang mengayuh sepeda tua di usia senja, yang menata jeruk dengan penuh cinta agar tetap manis di mata pembeli.

Dan saya pulang membawa bukan hanya sekantong jeruk, tapi juga secuil pelajaran hidup. Bahwa di tengah gempuran zaman yang serba cepat dan egois, masih ada ketulusan yang bertahan. Ketulusan yang mengajarkan arti sabar, ikhlas, dan syukur.

Mungkin, jika suatu hari revitalisasi itu kembali datang dengan rupa berbeda, kita perlu bertanya lebih dulu: apa kabar Mbah Wardi? Karena kota yang baik bukan hanya tentang taman indah dan trotoar lebar, tapi tentang bagaimana ia menjaga ruang hidup orang-orang kecil yang memberi denyut pada nadi kehidupan kota.

––
Catatan ini bukan sekadar tulisan, tapi pengingat. Bahwa di balik kebijakan, ada manusia. Di balik revitalisasi, ada cerita. Dan pagi ini, cerita itu hadir lewat sosok sederhana bernama Mbah Wardi.

Tinggalkan Balasan