Festival Literasi Digital: Saat Suara Anak-Anak Menemukan Ruangnya di MTs Maulana Ishaq Kabat

Festival Literasi Digital: Saat Suara Anak-Anak Menemukan Ruangnya di MTs Maulana Ishaq Kabat

BANYUWANGI – indonetizen.id | Dari balik layar-layar sederhana, lahir gema yang tak sederhana. Suara-suara kecil yang dahulu mungkin hanya bergema di ruang kelas, kini menjalar melintasi batas, menjelma menjadi peristiwa bersama dalam Festival Literasi Season 2 yang digelar MTs Maulana Ishaq Kabat. Sabtu (4/4/2026)

Di tengah zaman yang serba cepat, ketika kata sering kalah oleh gambar, festival ini justru menghadirkan perlawanan yang lembut: menghidupkan kembali bahasa sebagai rumah makna. Tema “Berani Bicara, Indah Berkata, Hebat Bercerita” bukan sekadar slogan, melainkan jalan yang dilalui setiap peserta—anak-anak yang belajar merangkai keberanian dalam kalimat, dan keindahan dalam penyampaian.

Tidak ada panggung megah, tidak pula sorak-sorai yang riuh secara fisik. Namun dari rekaman video yang dikirim dari berbagai sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah se-Banyuwangi, tercipta panggung lain—panggung sunyi yang justru lebih jujur. Di sanalah pidato disampaikan dengan tekad, puisi dibacakan dengan perasaan, dan dongeng dituturkan dengan imajinasi yang mengalir.

Kepala MTs Maulana Ishaq Kabat, Rustam Effendi, S.Pd.I., melihat festival ini sebagai ruang tumbuh yang baru. Bukan sekadar ajang lomba, melainkan proses panjang bagi anak-anak untuk mengenal suaranya sendiri.

“Anak-anak tidak hanya belajar tampil, tetapi juga belajar memahami apa yang mereka ucapkan. Itu yang paling penting,” ujarnya.

Di balik penilaian, para juri membaca lebih dari sekadar teks. H. Syafaat, Joko Wiyono, dan Andi Budi Setiawan menyaksikan bagaimana setiap peserta membawa dunia kecilnya sendiri—kadang sederhana, namun sarat makna.

Dalam refleksinya, Syafaat menegaskan bahwa yang paling bernilai bukanlah kemenangan yang tampak, melainkan proses yang dialami.

“Yang kita cari bukan hanya yang terbaik, tetapi yang sungguh-sungguh. Karena dari kesungguhan itulah lahir keindahan,” tuturnya.

Menariknya, festival ini juga merangkul realitas zaman. Penilaian tidak hanya berhenti pada dewan juri, tetapi juga melibatkan publik melalui platform TikTok. Di sana, apresiasi hadir dalam bentuk yang berbeda—like, komentar, dan tayangan—menjadi ukuran lain dari keterhubungan antara karya dan penikmatnya.

Pada ujung perjalanan, nama-nama pemenang diumumkan. MI Darul Falah Gombolirang meraih Juara Umum, sementara SDN 3 Macan Putih menjadi Juara Favorit. Namun sesungguhnya, tidak ada yang benar-benar kalah. Setiap peserta telah melampaui dirinya sendiri.

Festival ini akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menang, melainkan tentang bagaimana kata-kata kembali menemukan maknanya. Di tengah dunia yang kian bising, anak-anak itu mengajarkan satu hal sederhana: bahwa berbicara bukan sekadar mengeluarkan suara, tetapi menghadirkan jiwa di dalamnya.

Dan dari Kabat, sebuah keyakinan tumbuh perlahan—bahwa masa depan akan tetap memiliki harapan, selama masih ada generasi yang mau belajar berkata dengan hati.

Tinggalkan Balasan