Catatan Harian: Secuil Kisah Buram di Balik Kemegahan ITDBI
Oleh: Seorang Penikmat Kopi Pagi di Kota Gandrung
Pagi ini Senin 28 Juli 2025 seperti biasa, saya mengayuh sepeda ke sudut kota. Sepeda sederhana yang selalu setia menemani ritual pagi: ngopi di dekat jantung kota, tak jauh dari Pendopo Agung. Biasanya, hiruk pikuk kota Banyuwangi menjadi irama pagi yang akrab. Tapi hari ini, ada yang berbeda.
Saya celingak-celinguk. Jalanan tampak lengang, terlalu lengang untuk ukuran pagi Banyuwangi. Warung kopi langganan saya pun tertutup rapat. Penasaran, saya menelusuri sepanjang jalan yang biasanya ramai oleh aroma kopi, wangi gorengan dan ketan kirip. Namun, satu demi satu warung yang saya lewati bernasib sama—tutup.
Ada rasa janggal yang tak bisa saya abaikan. Sampai akhirnya, obrolan singkat dengan warga sekitar membuka tabir: 16 pelapak di antaranya yang biasa mengais rezeki di kawasan ini, diminta tutup selama perhelatan Internasional Tour D’Banyuwangi Ijen (ITDBI). Mereka harus mengalah, demi sebuah event besar yang mengusung nama Banyuwangi ke panggung dunia.
Saya diam sejenak. Ada rasa bangga, tentu saja. ITDBI bukan sekadar lomba sepeda internasional; ini simbol kemajuan, daya tarik wisata, dan wajah modern Banyuwangi. Saya pun mendukung penuh. Bahkan, dalam hati kecil, ada keinginan ikut mengayuh bersama para atlet dunia. Tapi, apa daya, bobot tubuh saya yang sudah menembus angka 80 kilogram hanya bisa menjadikan itu mimpi, bukan realita.
Namun, di balik gegap gempita itu, ada potret lain yang tak terlihat kamera. Ada pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari warung sederhana. Mereka bukan penonton yang bisa bersorak, mereka hanya manusia biasa yang harus menelan kenyataan: dapur mereka akan sepi selama empat hari. Mereka harus sabar, harus menghela napas panjang, sambil menunggu tanggal 1 Agustus 2025, hari di mana warung mereka bisa kembali buka.
Di atas panggung, ITDBI berkilau dengan sorot lampu, sorak tepuk tangan, dentuman musik pembuka, dan deru mobil pengawal atlet yang menderu gagah. Tapi di luar panggung, ada sunyi yang menjerat perut pedagang kecil. Hari-hari mereka bukan tentang rekor waktu atau medali emas, melainkan tentang bagaimana dapur tetap mengepul, bagaimana anak-anak tetap bisa makan malam ini.
Saya mencoba menimbang-nimbang. Apakah harus selalu ada yang dikorbankan untuk sebuah kemegahan? Apakah geliat ekonomi daerah hanya terukur dari deretan hotel penuh, restoran ramai, dan sponsor yang bangga memajang logo mereka? Lalu, di mana ruang untuk UMKM kecil ini, yang selama ini juga bagian denyut ekonomi lokal?
Saya bukan sedang mengeluh. Saya bangga dengan ITDBI, sungguh. Event ini membawa nama Banyuwangi melesat ke peta dunia. Tapi sebagai warga penikmat kopi pagi, saya berharap di tengah gegap gempita ini, ada juga ruang untuk mereka yang terpaksa menepi. Ruang untuk memikirkan bagaimana kemeriahan tak mematikan dapur para pedagang kecil.
Karena sejatinya, kemajuan bukan hanya soal cahaya lampu panggung, tapi juga tentang memastikan tak ada yang tertinggal di balik bayangannya.












