Baru Beberapa Bulan Diperbaiki, Proyek “Mahakarya” PU CKPP Banyuwangi di Sembon Kembali Jebol
BANYUWANGI – INDONETIZEN| Kualitas pengerjaan infrastruktur di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya, Perumahan, dan Permukiman (PU CKPP) Kabupaten Banyuwangi kembali menjadi sorotan tajam.
Sebuah proyek tembok penahan jembatan di Dusun Pasembon, Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, kini kondisinya hancur berantakan meski baru saja selesai diperbaiki pada akhir tahun 2025 lalu.
Pantauan di lokasi pada Selasa (03/02/2026) menunjukkan kerusakan parah pada konstruksi bangunan. Tembok penahan terlihat ambrol dan retak-retak, menyisakan material yang rapuh.
Ironisnya, proyek yang dibiayai uang rakyat ini seolah menjadi “langganan” rusak; jebol di pertengahan 2025, diperbaiki di akhir tahun, dan kini kembali hancur di awal Februari 2026.
Alibi Banjir yang Dipatahkan Warga
Sejak awal kerusakan, pihak CV rekanan sempat berdalih bahwa bencana banjir menjadi penyebab utama ambrolnya bangunan. Namun, alibi tersebut mentah setelah warga setempat angkat bicara.
“Di sini tidak pernah ada banjir besar yang sampai merusak bangunan. Yang kami lihat, pondasinya memang dangkal, hampir tidak ada galian. Campuran semen dan pasirnya juga diduga tidak sesuai takaran.
Ini seperti dikerjakan asal-asalan hanya untuk cari untung,” ujar salah satu warga Pasembon yang enggan disebutkan namanya.
Sikap Saling Lempar Tanggung Jawab
Ketidakprofesionalan rekanan semakin terlihat saat dikonfirmasi. Pemilik CV yang mengerjakan proyek tersebut kini justru terkesan buang badan.
Saat dihubungi pada Senin (03/01/2026), ia melemparkan seluruh tanggung jawab kepada pelaksana lapangan.
“Sekarang semua tanggung jawab Pak Yono,” cetusnya singkat.
Di sisi lain, Yono selaku pelaksana proyek, memilih bungkam seribu bahasa. Meski pesan singkat yang dikirimkan mengenai kondisi terkini bangunan telah terbaca, tidak ada sedikit pun tanggapan atau itikad baik untuk memberikan klarifikasi.
Dinas PU CKPP Bungkam
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas PU CKPP Banyuwangi belum memberikan respon terkait hancurnya proyek di Bangorejo tersebut.
Bungkamnya pihak dinas memicu kekecewaan mendalam bagi masyarakat. Warga menyayangkan lemahnya pengawasan dari dinas terkait, mengingat anggaran pembangunan berasal dari pajak rakyat yang seharusnya dikelola untuk fasilitas jangka panjang, bukan bangunan yang “seumur jagung”.
Masyarakat kini menuntut adanya audit independen terhadap proyek-proyek yang dikerjakan oleh CV rekanan tersebut agar kerugian negara tidak terus berlanjut.












