Bukan Sekadar Kapolres: Cerita tentang Bang Rama Sang Motivator
Penulis :
Bang Arra
Pimred Media Online indonetizen.id
Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika harus menulis tentang perpisahan. Apalagi jika yang dilepas bukan sekadar seorang pejabat, melainkan sosok yang selama ini hadir sebagai sahabat, abang, sekaligus penguat di banyak persimpangan jalan. Sosok itu adalah Kapolres Kota Banyuwangi, Kombes Pol. Dr. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H.—yang dengan penuh keakraban kami panggil Bang Rama.
Bagi sebagian orang, Bang Rama adalah Kapolres. Tegas, rapi, penuh tanggung jawab. Tapi bagi kami, para kuli tinta yang setiap hari bergulat dengan kata, fakta, dan dinamika lapangan, Bang Rama adalah lebih dari itu. Ia adalah ruang dialog yang hangat, telinga yang mau mendengar, dan hati yang tak mudah menghakimi. Sosok pejabat yang memahami bahwa kerja jurnalistik bukan sekadar berita, tapi juga tanggung jawab moral.
Banyak yang merasa kehilangan. Bukan hanya karena pergantian jabatan, tetapi karena hadirnya satu figur yang mampu menjembatani banyak kepentingan tanpa kehilangan nurani. Bang Rama tidak pernah memposisikan diri di menara tinggi kekuasaan. Ia justru turun, menyapa, berdiskusi, bahkan berceloteh ringan di sela-sela kesibukan. Dari obrolan-obrolan sederhana itulah, sering lahir semangat baru.
Bagi saya dan rekan-rekan seprofesi, Bang Rama adalah Sang Motivator. Bukan dengan pidato panjang atau kalimat menggelegar, melainkan dengan sikap. Dengan caranya menghargai kerja jurnalis, menjaga komunikasi, dan menanamkan pesan bahwa profesionalisme dan integritas harus berjalan beriringan. Ia mengajarkan, tanpa pernah menggurui, bahwa kerja yang baik akan selalu menemukan jalannya.
Ada kalimat-kalimat Bang Rama yang mungkin tak tercatat di buku atau berita, tapi tersimpan rapi di ingatan. Tentang tetap jujur meski lelah, tentang bekerja ikhlas meski tak selalu dipuji, tentang percaya bahwa setiap orang punya perannya masing-masing. Kalimat-kalimat itu sederhana, tapi datang di waktu yang tepat, dari orang yang tepat.
Kini, Bang Rama melangkah ke fase pengabdian berikutnya. Dan Banyuwangi, jujur saja, terasa sedikit berbeda tanpanya. Banyak yang kehilangan pejabat, banyak pula yang kehilangan sahabat. Kami kehilangan abang—tempat bertanya, berdiskusi, dan kadang menguatkan diri sendiri.
Namun seperti semua perjalanan baik, pertemuan dengan Bang Rama tidak benar-benar berakhir. Jejaknya tertinggal dalam cara kami bekerja, dalam cara kami memandang profesi, dan dalam keyakinan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menghidupkan semangat orang lain.
Terima kasih, Bang Rama.
Atas keteladanan, keterbukaan, dan motivasi yang tak pernah pelit dibagi. Bagi kami para jurnalis, Bang Rama bukan sekadar Kapolres yang pernah bertugas di Banyuwangi. Ia adalah bagian dari cerita, bagian dari perjalanan, dan akan selalu dikenang sebagai Abang dan Sang Motivator.












