Bupati Yang Mengatur, Jangan Diatur!

Bupati Yang Mengatur, Jangan Diatur!

BANYUWANGI – indonetizen.id | Sebagai seorang pemimpin; entah itu presiden, gubernur, hingga bupati/walikota, tentu memiliki gambaran besar dalam membangun suatu wilayah. Mereka memiliki portofolio harus berbuat apa, dengan cara bagaimana agar mewujudkan segala cita-cita dan harapan sesuai janji-janji saat masa kampanye yang bermuara meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Banyak sekali kajian-kajian berupa riset ataupun penelitian yang menjadi pijakan bagi seorang pemimpin untuk membangun daerahnya. Tentunya, setiap pemimpin memiliki persepsi dan sudut pandang yang berbeda. Sebut saja; misalnya kebijakan bupati Banyuwangi dari masa ke masa. Mulai dari era Samsul Hadi, Ratna Ani Lestari, Abdullah Azwar Anas hingga Ipuk Fiestiandani.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa empat tokoh bupati kita ini jasanya sangat besar untuk keberlanjutan dan perkembangan Banyuwangi. Hingga saat ini, Banyuwangi semakin berkembang dari berbagai bidang. Beroperasinya Bandara Blimbingsari adalah bagian dari rentetan buah manis kerja keras para bupati dari masa ke masa.

Bandara blimbingsari membuka peluang besar dan menggairahkan denyut nadi ekonomi rakyat Banyuwangi. Jika kebijakan bupati mati suri, percayalah bahwa tidak akan bisa bertahan lama, bandara menjadi sepi. Pada akhirnya, akan non aktif, tak beroperasi, dan bisa tamat tinggal riwayat. Kalau ceritanya begini, rakyat Banyuwangi yang akan merugi.
Banyuwangi memiliki banyak potensi lokal yang terus digaungkan. Sektor pariwisata menjadi daya tarik yang sangat kuat dan menjadi peluang meningkatkan ekonomi rakyat. Maka sangat wajar, jika bupati Ipuk Fiestiandani terus gencar dalam menciptakan frame Banyuwangi sebagai lumbung destinasi wisata yang digemari oleh wisatawan, baik dalam dan luar negeri.

Sektor wisata yang unggul akan meningkatkan perputaran ekonomi yang naik signifikan. Sudah banyak sekali contoh suatu daerah menjadi maju karena sektor pariwisata. Dan, Banyuwangi, memiliki modal untuk mewujudkan itu semua.

Sektor pariwisata yang terus didengungkan menjadi strategi yang terukur dan komprehensif. Bagaimana tidak, produk-produk lokal yang dihasilkan dari tangan-tangan ciamik akan laku keras di pasaran. Dari sinilah, maka muncul UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) semakin tumbuh subur.

Produk kopi, batik, dan aneka produk olahan hasil pertanian tetap terus berkembang. Dengan begini, rakyat diuntungkan karena benar-benar merasakan dampak manfaat yang besar. Benar saja, yang baik dilanjutkan, yang belum selesai dituntaskan adalah slogan yang tepat melihat track record Banyuwangi saat ini.

Segala kebijakan bupati Ipuk Fiestiandani dinilai cukup terukur sejauh ini. Salah satunya adalah tetap menggelar hajatan Banyuwangi Festival (B-Fest) yang rutin digelar setiap tahun. Yang paling gres adalah even Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang berlangsung gebyar dan semarak kemarin (12/6).

Panorama event tersebut cukup jelas membawa dampak langsung kepada rakyat. Dengan demikian, langkah yang dilakukan oleh bupati perlu diapresiasi. Sebab, ini adalah bagian dari strategi promosi sekaligus manajemen pemasaran yang efektif untuk terus menciptakan citra Banyuwangi yang kaya akan budaya, seni, dan pariwisata.

Bupati Ipuk Fiestiandani jelas tidak memiliki angan-angan rakyatnya hidup sengsara. Dengan kewenangan dan otoritas penuh membangun daerah, perempuan berkacamata itu memiliki bekal dan pondasi yang kuat untuk memajukan daerah yang ia pimpin. Termasuk bagaimana meningkatkan jaringan dengan mitra, kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak dengan semata-mata mewujudkan Banyuwangi tetap jenggirat tangi.

Wangi Banyuwangi dikenal di sana sini. Tatanan kota semakin hari semakin berseri. Banyak sekali Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang muncul berdiri. Tidak bisa dipungkiri, ini adalah salah satu formula yang mumpuni untuk menggeliatkan ekonomi. Banyuwangi kian ramai untuk terus dikunjungi. Sekali datang ke Banyuwangi, Anda pasti ingin kembali!

Bupati Ipuk Fiestiandani tampaknya juga mempunyai skema prioritas untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan warganya. Akses pelayanan publik terus berevolusi dengan program Banyuwangi Melayani. Sektor pendidikan, kesehatan, dan urusan bidang lainnya juga menjadi fokus perhatian untuk terus ditingkatkan dan diperbaiki.

Jadi, percayakan kepada Bupati yang mengatur dan tak elok jika kita malah ikut mengatur-atur. Ironis, kita ikut mengatur malah tidak memiliki pengalaman mengatur! Bisa amburadul!!!

Ali Nurfatoni
Ketua Rumah Analisis Kebijakan Publik (RAKP) Kab. Banyuwangi

Tinggalkan Balasan