Cerita Antara Es Degan dan Kemegahan Internasional Tour D’Banyuwangi Ijen (ITDBI)
(Oleh: Seorang Penikmat Es Degan di Pasar Blambangan )
Siang ini Selasa 29 Juli 2025, cuaca Banyuwangi terasa lumayan terik. Setelah ritual pagi yang tak biasa karena suasana kota mendadak lengang, saya mendadak ingin meredam panas ini dengan segarnya es degan langganan di sekitar Terminal Blambangan. Saya kayuh sepeda pelan, membelah jalan kota yang mulai ramai kendaraan, tapi di satu titik suasana tampak berbeda: sejumlah petugas terlihat lalu-lalang, seperti tengah bersiap menyambut sesuatu.
Saya duduk di bangku plastik sederhana, menyeruput es degan segar dengan potongan daging kelapa muda yang renyah. Segalanya terasa nikmat hingga sebuah kalimat dari Si Mamad, sang penjual es degan, memecah kesunyian:
“Kita diminta tutup habis ini, Mas, soalnya nanti ada pembalap sepeda ITDBI lewat.”
Saya kaget. “Lho, kenapa harus ditutup, Mas?” tanya saya penasaran.
Jawabannya meluncur ringan, disertai senyum getir:
“Mungkin biar pembalapnya fokus nggak lirak-lirik pedagang dengan lapaknya di pinggir jalan. Kalau ngelirik, nggak konsentrasi, bisa tabrakan.”
Saya tertawa kecil. Tawa yang terdengar hambar, karena jawaban Si Mamad seperti menelanjangi kenyataan: di balik gegap gempita Internasional Tour D’Banyuwangi Ijen (ITDBI), ada pedagang kecil yang harapannya sekecil sisa es degan di gelas plastik.
Saya mencoba menggali info lebih jauh. Ternyata bukan hanya Mamad, semua lapak kaki lima di jalur yang akan dilintasi ITDBI diminta tutup sebelum pukul 13.00 siang ini. Alasannya demi kerapian, keamanan, dan keindahan jalur. Demi wajah pariwisata yang sempurna di mata dunia.
Lalu, saya merenung. Apakah nilai jual pariwisata dengan agenda internasional ini harus dibayar mahal oleh mereka yang paling rentan? Apakah keeksotisan kearifan lokal berupa pedagang kaki lima tidak justru menjadi daya tarik tersendiri? Bukankah wisatawan mancanegara kerap mencari otentisitas, keunikan, dan keramahan lokal—bukan sekadar jalan mulus tanpa kehidupan?
Di satu sisi, saya paham logika penyelenggara: keselamatan pembalap, estetika kota, dan kenyamanan event harus dijaga. Sebagai warga, saya bangga Banyuwangi punya agenda berkelas dunia. Saya juga mendukung penuh ITDBI, karena dampaknya besar untuk citra daerah. Tapi, bangga saya terasa getir ketika melihat Si Mamad membereskan lapak kecilnya, dengan tatapan kosong yang menyimpan banyak tanya: “Apa begini nasib wong cilik?”
Saya hanya bisa diam tanpa kata. Menyeruput sisa es degan yang mulai hambar, sambil melihat mobil Satpol PP hilir mudik. Jalanan mungkin akan tampak aman, rapi, dan bersih untuk pembalap sepeda dunia. Tapi, di balik itu, ada ruang hati yang terasa tidak nyaman—ruang milik mereka yang terpaksa menepi demi gemerlap panggung internasional.
Karena pada akhirnya, sehebat apa pun kita berlari mengejar pariwisata dunia, jangan sampai kita meninggalkan mereka yang menopang kehidupan lokal kita. Banyuwangi bukan hanya tentang peta jalur balap, tetapi juga tentang rasa: rasa degan yang sederhana, rasa hidup para pedagang kecil, dan rasa keadilan yang seharusnya bisa kita jaga bersama.
(Ditulis sambil menatap gelas plastik kosong yang masih menyisakan dinginnya es, dingin yang kini terasa menohok hati.)












