DR. IR. MOCHAMAD BASUKI HADIMULJONO, M.SC dan Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, MM: Dua Pembantu Berbeda Skala, Satu Integritas Jawa

DR. IR. MOCHAMAD BASUKI HADIMULJONO, M.SC dan Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, MM: Dua Pembantu Berbeda Skala, Satu Integritas Jawa

Banyuwangi – indonetizen.id | Dalam panggung politik dan pemerintahan Indonesia, nama DR. IR. MOCHAMAD BASUKI HADIMULJONO, M.SC dan Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, MM, sering terdengar sebagai sosok yang berpengaruh. Meski berbeda dalam skala dan posisi, keduanya berbagi nilai dan prinsip yang sama sebagai putra Jawa yang menjunjung tinggi integritas dan pengabdian. Basuki sebagai pembantu Presiden Joko Widodo dan Guntur sebagai pembantu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, keduanya membuktikan bahwa keberhasilan dalam pemerintahan tidak hanya tentang posisi, tetapi juga tentang dedikasi dan kinerja nyata.

Sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono memainkan peran krusial dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Proyek-proyek besar seperti jalan tol, jembatan, dan bendungan adalah bagian dari jejak karyanya. Dia dikenal dengan pendekatan kerjanya yang praktis dan efisien, sering turun langsung ke lapangan untuk memastikan proyek berjalan sesuai rencana. Sifatnya yang “ora usah kakean cangkem” (tidak banyak bicara) tetapi fokus pada bukti nyata menjadikannya figur yang dihormati.

Di bawah kepemimpinannya, sektor infrastruktur Indonesia mengalami peningkatan signifikan, yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan kemudahan akses transportasi. Basuki menunjukkan bahwa kerja keras dan komitmen pada hasil adalah kunci keberhasilan dalam skala nasional

Di sisi lain, Dr. Ir. H. Guntur Priambodo, MM, sebagai pembantu Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, berfokus pada pengembangan lokal. Sebagai figur sentral dalam pemerintahan daerah, Guntur bekerja untuk memastikan bahwa program-program bupati dijalankan dengan baik dan memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Meski ruang lingkupnya lebih kecil dibandingkan Basuki, dedikasi Guntur tidak kalah besar.

Prinsip “kawula namung saderma, mobah-mosik kersaning hyang sukma” (kami hanya berusaha, hasilnya tergantung pada kehendak Tuhan) menjadi panduan Guntur dalam bekerja. Dia memahami bahwa dalam pengabdian kepada masyarakat, upaya maksimal harus dilakukan tanpa terlalu terfokus pada hasil akhir, karena hasil tersebut adalah bagian dari takdir ilahi. Dengan pendekatan ini, Guntur berhasil membangun kepercayaan dan rasa hormat dari masyarakat Banyuwangi.

Meski berbeda dalam skala tugas, Basuki dan Guntur menunjukkan bahwa integritas dan dedikasi adalah nilai universal yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks. Keduanya adalah sosok Jawa yang menjunjung tinggi “basa iku busananing bangsa” (bahasa adalah pakaian bangsa), menunjukkan bahwa perilaku dan kata-kata harus selaras dengan tindakan nyata.

Pendekatan mereka yang “ora usah kakean cangkem” fokus pada aksi nyata, membuktikan bahwa mereka bukan hanya pemimpin yang berbicara, tetapi pemimpin yang berbuat. Baik dalam proyek-proyek infrastruktur besar atau program-program lokal, keduanya menunjukkan bahwa keberhasilan sejati datang dari kerja keras, ketulusan, dan kejujuran.

Keberhasilan Basuki Hadimuljono dan Guntur Priambodo memberikan pelajaran penting tentang kepemimpinan dan pengabdian. Mereka mengajarkan bahwa dalam profesi apapun, skala tugas tidak mengurangi pentingnya dedikasi. Keduanya membuktikan bahwa menjadi pembantu, baik untuk presiden atau bupati, adalah tugas yang mulia dan penting, asalkan dilakukan dengan integritas dan semangat pelayanan.

Kisah mereka adalah inspirasi bagi semua orang, menunjukkan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh posisi tetapi oleh kualitas pekerjaan dan pengabdian kepada masyarakat. Mereka adalah contoh nyata bahwa dalam setiap tindakan, kebenaran dan ketulusan selalu menemukan jalannya untuk dihargai dan dikenang.

Penulis :
Noto Suwarno
Ketua Relawan IGUN

Tinggalkan Balasan