Harapan Baru Wong Cilik dari Program Penyempurnaan  Digitalisasi Bansos

Harapan Baru Wong Cilik dari Program Penyempurnaan  Digitalisasi Bansos

Penulis : Penikmat Kopi Pahit

Hari ini saya membaca kabar yang membuat hati sedikit lega: Banyuwangi ditetapkan sebagai pilot project penyempurnaan digitalisasi Bansos. Bahkan Bupati Ipuk Fiestiandani diundang ke Jakarta, duduk bersama 20 kementerian dan lembaga di Kantor Dewan Ekonomi Nasional. Rasanya, kabar ini seperti membuka jendela baru setelah sekian lama warga kecil terjebak dalam “benang kusut” bantuan sosial.

Saya teringat obrolan dengan seorang tetangga, seorang janda tua yang sudah lama sakit-sakitan. Ia pernah berkata dengan getir, “Bang, kok saya gak pernah dapat bantuan, padahal tetangga sebelah yang rumahnya lantai keramik malah terima terus.” Kalimat itu membekas. Bansos yang seharusnya jadi penopang, kadang justru terasa seperti undian nasib. Ada yang layak tapi tak terdata, ada yang mapan malah rutin menerima.

Karena itu, digitalisasi ini seolah menjadi cahaya kecil di ujung jalan. Banyuwangi kini punya kesempatan membuktikan diri, bahwa pengelolaan data bisa lebih rapi. Dinas Sosial memegang peran penting, terutama dalam memutakhirkan DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial). Dari sinilah pintu semua program bantuan terbuka: PKH, BPNT, hingga bantuan darurat. Kalau datanya bersih, insyaallah bansos bisa lebih tepat sasaran.

Namun, saya tidak ingin terlalu cepat percaya. Digitalisasi bukan jaminan semua masalah selesai. Ia hanya alat. Yang lebih penting adalah niat dan integritas pengelolanya. Aparat desa dan kelurahan harus jujur dalam memverifikasi data, sebab merekalah yang tahu siapa benar-benar miskin, siapa hanya “pura-pura miskin”. Partisipasi masyarakat juga harus diperkuat. Jangan sampai warga hanya jadi penonton, tapi diberi ruang melapor ketika ada data yang melenceng.

Saya juga berharap, program ini tidak sekadar pencitraan. Wong cilik Banyuwangi ingin bukti nyata, bukan sekadar seremoni rapat di ibu kota. Kami ingin bansos hadir di dapur rakyat kecil, bukan hanya di layar presentasi para pejabat.

Malam ini saya kembali merenung: jika pilot project ini berhasil, Banyuwangi bisa jadi teladan nasional. Bukan hanya soal teknologi, tapi tentang keberanian mengembalikan rasa adil. Semoga ke depan tidak ada lagi cerita janda tua yang terlewat dari daftar, atau keluarga mampu yang tetap menerima.

Bagi kami, digitalisasi bansos bukan sekadar data, melainkan harapan. Harapan bahwa negara benar-benar hadir di tengah mereka yang paling membutuhkan. Dan sebagai warga Banyuwangi, saya ingin menyambut kabar ini dengan doa: semoga program ini berjalan lurus, bersih, dan berpihak pada wong cilik. Karena di situlah sejatinya makna sebuah bantuan sosial.

Tinggalkan Balasan