Kebijakan Transformatif Bupati, Bukan Sekadar Kata Kata Tapi Dengan Kerja Nyata
BANYUWANGI – indonetizen.id | Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani kini telah mengaktifkan kembali Car Free Day (CFD) setelah lima tahun vakum di Jalan Ahmad Yani, tepatnya ruas jalan depan kantor Bupati karena saat itu sedang menghadapi problem pandemi covid-19. Rangkaian kegiatan bebas hambatan dari lalu lalang kendaraan itu telah berlangsung selama dua pekan terakhir, tepatnya digelar akhir pekan pada tiap hari Minggu mulai pukul 05.00 hingga 10.00.
Kebijakan ini tampaknya membawa dampak positif yang luas bagi masyarakat. Bagaimana tidak, Bupati Ipuk Fiestiandani bukan sekadar say hello dengan menyapa dan menyaksikan antusiasme warga yang tumplek-blek dalam CFD tersebut. Pasalnya, dia juga menerapkan gagasan besar dalam berbagai urusan pelayanan publik. Misalnya; pengurusan KTP rusak, KTP Hilang, cek kesehatan, dan layanan pengurus izin untuk usaha dan sebagainya.
Terobosan ini bisa memberikan angin segar bagi khalayak ramai.
Warga yang selama ini terbentur kendala waktu karena repot urusan kerja formal pada jam-jam kerja (Senin-Sabtu), bisa langsung mengurus segala pelayanan saat di akhir pekan pada hari Minggu saat CFD berlangsung. Ini menunjukkan bahwa kebijakan Bupati kita cukup transformatif dan fleksibel dengan segala kebutuhan warganya.
Jadi, warga bukan sekadar refreshing jalan-jalan atau menikmati kuliner yang tersedia oleh para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), melainkan mereka bisa mengakses segala layanan publik, tentu ini ciamik. Beragam komunitas olahragawan, mulai dari komunitas skateboard, sepatu roda hingga kalangan beladiri, aneka permainan, juga ada di jalanan pusat kota tersebut.
Menariknya, Bupati Ipuk Fiestiandani juga memberikan perhatian lebih dalam urusan olahraga. Buktinya, perempuan berkacamata itu juga tampil dengan berlatih tinju tanpa gelanggang di CFD tersebut. Dipandu seorang pelatih perempuan yang energik, dia benar – benar menikmati setiap gerakan-gerakan pukulan layaknya tinju profesional, seperti jap, hook dan uppercut.

Secara tersirat, bupati satu ini ingin mencontohkan dan memberi pesan kepada warga tentang pentingnya hidup sehat dengan cara berolahraga. Seperti dalam istilah penyair kuno, mens sana in corpore sano yang artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Jika sudah hidup sehat, pikiran juga tak penat, kerja juga semakin bersemangat.

Dalam berbagai kesempatan, Bupati Ipuk Fiestiandani juga memberi teladan yang baik. Gaya bicaranya tidak pernah meledak-ledak terutama kepada jajarannya. Nyaris tidak pernah terlihat seenaknya marah-marah kepada bawahannya, apalagi sampai disorot kamera dan tersebar luas di berbagai media.
Bupati Ipuk Fiestiandani ingin menunjukkan integritas dan menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif. Sehingga, kerja-kerja yang dihasilkan bisa dirasakan manfaatnya, terutama untuk masyarakat luas. Ketika ada fenomena di lapangan, dia tentunya dan pastinya cukup bertanya kepada jajarannya.
Seperti yang diungkapkan Mohamad Yanuarto Bramuda, seorang asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan saat memberikan penjelasan dan paparan seputar perkembangan Banyuwangi di hadapan Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama dan Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani di Pendopo Shaba Swagata beberapa waktu lalu.
“Jangan sampai kita terlambat tidak menjawab chat Whatsapp atasan (bupati) walau lima menit, itu sudah petaka bagi kita,” katanya dalam testimoni yang direspons gelak tawa rombongan studi banding tamu pemerintah dari luar daerah tersebut. “Minimal, ketika pimpinan chat atau telpon, kita sebagai bawahan sudah bertindak lebih dulu, sudah ada solusi, dan akhirnya bisa memberikan jawaban ketika ditanya atasan seputar dinamika atau problem yang muncul di tengah-tengah masyarakat”, terangnya.
Testimoni pejabat eselon 2 ini menunjukkan kualitas dan integritas pemimpin Banyuwangi saat ini. Bagaimana tidak, pemimpin yang baik akan tetap menghormati atas kerja kerja bawahannya. Tidak perlu mengumbar sisi buruk bawahan di hadapan publik. Tetapi, pemimpin jelas akan memberikan penilaian khusus atas apa – apa yang sudah dilakoni dan dikerjakan bawahan. Jika kerja baik, tentunya akan mendapatkan ganjaran apresiasi.
Sebaliknya, jajarannya yang kurang sat-set dalam bekerja akan mendapatkan imbalan setimpal sesuai amal perbuatannya.
Pernyataan-pernyataan yang muncul dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani nyaris tidak pernah kontroversial. Dia memilih memberikan respons bukan dengan kata kata tapi dengan cara bertindak dan kerja nyata.
Bupati berkacamata ini tampaknya menerapkan pepatah jawa, Mikul Duwur Mendhem Jero yang artinya menjunjung tinggi kebaikan / prestasi orang dan merahasiakan / tidak mengumbar sisi buruk aib seseorang.
Selamat bekerja kepada Ibu Bupati Banyuwangi, kita warga Banyuwangi patut mencontoh itu semua. Capaian Banyuwangi yang terus maju perlu didukung oleh kita semua, Semoga Banyuwangi semakin jaya!
Ali Nurfatoni
Ketua Rumah Analisis Kebijakan Publik Kab. Banyuwangi












