Polemik Kenaikan Retribusi di Alas Purwo: Umat Hindu Keberatan, Tokoh NU dan Akademisi Serukan Peninjauan Ulang

Polemik Kenaikan Retribusi di Alas Purwo: Umat Hindu Keberatan, Tokoh NU dan Akademisi Serukan Peninjauan Ulang

Banyuwangi – indonetizen.id | Ramainya video beredar tentang umat Hindu yang mau melakukan persembahyangan di Alas Purwo, yang biasanya membayar retribusi cukup dengan Rp. 5.000, kini dengan adanya peraturan baru naik menjadi Rp. 20.000 di hari kerja dan Rp. 30.000 di hari libur. Hal ini menimbulkan polemik, bisa di bayangkan para saudara kita umat Hindu ketika mereka harus masuk ke alas Purwo dengan tujuan ibadah menjadi serasa mahal. Sabtu 16/11/2024

Hal ini memantik tokoh muda intelektual Nahdlatul Ulama, yang juga Sekretaris PC ISNU Banyuwangi, Fajar Isnaeni, SE. MM “Bagaimana toleransi kita ketika bersembahyang saja harus berbayar mahal, kenaikan retribusi masuk ini harusnya di bedakan mana yang kategori ibadah dan mana yang berwisata, saudara saudara kita umat Hindu ini datang untuk melakukan persembahyangan, untuk berdoa, bukan sekedar berwisata tentu kenaikan retribusi ini perlu di tinjau ulang. Jangan kita yang hidup di negeri merdeka ini, untuk beribadah saja harus berbayar,” ungkapnya

Foto : Warga Bali yang akan melakukan ibadah dialas Purwo

“Keputusan kenaikan retribusi harusnya untuk para wisatawan saja, tapi jangan untuk umat yang melakukan ibadah ke alas Purwo. Mari kita semua perlu wise dan bijak menyikapi aturan ini,” lanjutnya

Bagi akademisi STAI Darul Ulum Banyuwangi yang kini tengah menyelesaikan studi doktoral ini menambahkan “meski kita semua tahu Alas Purwo adalah taman nasional tapi kita juga harus faham dan tahu bahwa ada tempat peribadatan bagi umat Hindu, yang mana sering menjadi jujugan umat Hindu yang datang dari berbagai daerah terutama Bali untuk melakukan ibadah dengan melakukan persembahyangan di Pura luhur Giri Salaka, maka kami minta kepada pengelola Taman Nasional Alas Purwo untuk meninjau ulang aturan ini,” tambahnya

Kebijakan ini memantik reaksi luas dari berbagai pihak, termasuk tokoh lintas agama dan masyarakat umum. Banyak yang menyayangkan kebijakan yang tidak mempertimbangkan aspek keberagaman dan fungsi spiritual Alas Purwo.

Kenaikan tarif retribusi ini harus disikapi dengan baik dan bijak oleh para stakeholder yang ada agar tidak terus bergulir dan menjadi polemik yang berkepanjangan

“Biarkan saudara kita umat Hindu beribadah dengan tenang tanpa harus ada pungutan retribusi yang naik. Harus kita bedakan mana yang datang untuk beribadah dan mana yang pure berwisata, kami meminta agar tarif retribusi kembali ke aturan awal sehingga tidak memberatkan saudara kita umat Hindu yang akan beribadah.” pungkas Fajar

Tinggalkan Balasan