Siapapun tak boleh mengusik Bhineka Tunggal Ika di Negeri Ini (catatan untuk Yudian Wahyudi)
Banyuwangi – indonetizen.id |
Mulutmu harimaumu, letupan statemen dari seorang pejabat publik membuat sontak seantero indonesia, dan publik pun terhenyak oleh narasi atas nama keseragaman yang disampaikan oleh Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang di komandani oleh Yudian Wahyudi yang pada pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Putri Nasional 2024 di Istana Negara Ibu Kota Nusantara (IKN) Kalimantan Timur pada Selasa (13/8/2024) yang mana para Paskibraka melepas hijabnya.
Sudah banyak para tokoh bangsa ini yang juga mengecam tentang kejadian ini.
Menghargai Pancasila adalah menghargai keberagaman, jilbab bukan sekedar identitas agama tertentu, tapi pemakaian jilbab itu merupakan hak asasi yang juga harus di hormati. Pengejahwantahan dari menghormati adalah semua anak bangsa dalam hal urusan mereka dengan Tuhan, adalah bebas merdeka.
Mungkin meski BPIP adalah sebuah lembaga yang digunakan untuk membumikan nilai-nilai Pancasila di negara ini, akan sangat aneh ketika oknum ketua BPIP ini malah mencederai keberagaman yang ada di negara ini, slogan Bhinneka Tunggal Ika hanya jadi sebuah slogan saja ketika kita tidak bisa menghargai keberagaman dan perbedaan sehingga harus diseragamkan, padahal sudah sunnatullah bagi Republik Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama, suku dan bahasa akan ada perbedaan tapi pada akhirnya tetap satu jua yaitu Indonesia.
Bangsa Indonesia menjadi rekat dan indah karena perbedaan akan sangat naif bila sekelas Kepala BPIP memaksakan membuat keseragaman dalam hal ini. Kalau alasan para paskibraka sudah menandatangani surat pernyataan kesediaan tentu tidak harus pernyataan yang mereduksi kemerdekaan sikap beragama yang mereka yakini seperti pemakaian jilbab yang memang diserukan bagi muslimah sesuai dengan keyakinan agama Islam. Evaluasi terhadap sosok Yudian Wahyudi ini harus segera dilakukan oleh Pemerintah karena tidak hanya kali ini, sosok ini membuat blunder dari pernyataan pernyataannya.
Diperhelatan menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sesungguhnya kita semua menjaga agar kehikmatan hari bersejarah Bangsa ini tidak dinodai oleh kontroversi kontroversi yang seharusnya tidak perlu terjadi. Pada akhirnya penulis sangat memahami akan pentingnya BPIP bagi bangsa ini, jika ada tikus tentu tidak harus membakar rumah, tapi mencari dan membuang tikus agar rumah tetap terjaga dan aman. BPIP tetaplah harus ada, hanya sekarang pemerintah juga harus bersikap tegas karena Yudian Wahyudi ini jelas sudah membuat keresahan sebagian bangsa ini, dan ini tidak kali ini saja yang bersangkutan membuat polemik, jadi kami meminta kepada pemerintah untuk mencopot Yudian Wahyudi ini dari Kepala BPIP, masih banyak tokoh baik dari akademisi maupun tokoh yang lain yang bisa menggantikan Yudian Wahyudi ini.
Jangan cabik persatuan negara yang sudah terbangun dengan saling menghargai keberagaman karena ulah satu dua orang yang seakan akan menafikan Bhinneka Tunggal Ika, apalagi ini sekelas Kepala BPIP.
Kegaduhan yang terjadi sudah sampai disini, copot Yudian Wahyudi agar keblunderan tidak terjadi lagi dan ini menjaga marwah BPIP sebagai lembaga yang sangat kita hormati.
Penulis :
Fajar Isnaeni
– Akademisi / Puket III Bidang Kemahasiswaan STAI DARUL ULUM Banyuwangi
-Ketua Kampung Merdeka Banyuwangi
-Mabinda PKC PMII Jawa Timur
-Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi UNTAG Surabaya












