Asa Baru PCNU Penuh Energi, Selamat Mengabdi Kiai Sunandi

Asa Baru PCNU Penuh Energi, Selamat Mengabdi Kiai Sunandi

BANYUWANGI – indonetizen.id | Setelah mengalami vakum of power tanpa kepengurusan, akhirnya PCNU Banyuwangi mendapatkan kepastian. Secara sah dan meyakinkan, Kiai Sunandi Zubaidi menjadi nahkoda baru untuk organisasi masyarakat terbesar di Bumi Blambangan dengan masa khidmad terbatas selama satu tahun, terhitung sejak tanggal ditetapkan yaitu 7 Februari tahun 2025.

Pengasuh Pesantren Al Kalam Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari itu didapuk menjadi ketua tanfidziyah setelah mendapatkan SK dari PBNU Nomor : 3584/PB.01/A.II.01.45/99/02/2025 tentang penunjukan dan pengesahan kepengurusan definitif PCNU Banyuwangi periode 2005-2026.

Tentu, mengemban tugas dan amanat sebagai pimpinan selevel NU memang tidak mudah. Tetapi, kiai Sunandi yang notabene alumni santri PP Lirboyo Kediri itu cukup mumpuni memegang kendali organisasi. Kewajibannya jelas bagaimana kiprah dan kebijakannya benar benar bisa dirasakan manfaat untuk warga NU, baik yang berada dalam jalur struktural maupun non struktural.

Kiprah dan sepak terjang Kiai Sunandi memang sudah tidak asing bagi warga Banyuwangi, terutama warga NU. Sebab, selama ini, alumni Universitas Islam Ibrahimy Genteng itu rajin turun gunung, baik sebagai penceramah maupun pembicara dalam pengajian maupun sholawatan mahabbatun nabi.

Sebelum didapuk sebagai ketua tanfidziyah, Kiai Sunandi pada periode PCNU sebelumnya mengemban sebagai Katib. Materi dan narasinya yang disampaikan kepada jamaah warga NU sangat mudah diingat. Kapasitas keilmuannya juga mumpuni. Permasalahan kekinian yang muncul selalu diselesaikan dengan metode batsu masail. Sehingga, obyek permasalahan diputuskan atas dasar rujukan jelas dengan sanad yang jelas.

Kiai Sunandi bukanlah tokoh sembarangan. Literasinya cukup luas. Berbekal pendidikan non formal di pesantren yang cukup lama, dia paham betul tentang dinamika dan problematika pesantren, terutama pesantren-pesantren klasik nan tradisional.

Kiai Sunandi memang tergolong terlambat saat menempuh pendidikan perguruan tinggi. Toh pada akhirnya dia sukses menyelesaikan studi hingga program magister dan berhak menyandang gelar Magister Pendidikan Islam (M.Pdi). Dengan begitu, dia bisa menjadi contoh tauladan, bukan sekadar melontarkan kata kata bijak, tapi juga ditunjukkan dengan melahirkan tindakan bijak.

PCNU Banyuwangi saat ini tampak penuh energi. Dengan asa baru, semua tantangan akan bisa disikapi sepenuh hati. Bergandengan dan selalu beriringan dengan program pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Jika sama sama berkolaborasi dan sinergi, maka yakinlah seluruh urusan keumatan bisa menuai manfaat maksimal bebas tanpa hambatan.

Kiai Sunandi akan dibantu sederet tokoh berkualitas. Jajaran wakil ketua tanfidzdiyah dari berbagai latar belakang, mulai dari kalangan akademisi, para pengasuh pesantren, abdi negara di lingkungan Kementerian Agama, hingga kalangan wartawan senior ada di dalam kepengurusan.

Ada dua rektor yang menjadi wakil ketua tanfidziyah, yaitu KH. Ahmad Munib Syafaat salah satu rektor UIMSYA Blokagung dan H. Lukman Hakim yang notabene rektor UNIIB Genteng. Agus Baihaqi jurnalis senior juga masuk jajaran wakil ketua. Seorang PNS Kemenag bernama Guntur Al Badri juga masuk jajaran wakil ketua dan dia juga memiliki banyak pengalamannya mengabdi di NU sebagai sekretaris PCNU di era ketua Tanfidziyah era KH. Maskur Ali.
Apalagi ada nama Abdul Aziz. Tokoh pemuda ini juga sarat pengalaman di bidang organisasi, mulai organisasi kemahasiswaan seperti PMII, GP Ansor hingga ISNU. Latar belakangnya juga sebagai alumni Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo itu sangat cocok membantu Kiai Sunandi sebagai sekretaris. Mantan aktivis sekaligus mantan wartawan itu bisa membawa dampak positif bagi organisasi kaliber PCNU. Bendahara dipercayakan kepada seorang kepala desa yang memiliki dedikasi tinggi, yaitu Ahmad Turmudi.

Total kepengurusan PCNU Banyuwangi kali ini memang gemuk. Jika ditotal, jumlahnya ada 109 orang yang mengisi sesuai job diskripsinya. Mulai dari jajaran Mustasyar, Suriah dengan Raisnya KH. Ali Maskur, jajaran Katib, dan A’wan adalah orang orang pilihan.

Kini, tidak ada lagi NU pecah kongsi, yang ada adalah NU sepenuh hati. Selamat mengabdi!

Ali Nurfatoni, Sekretaris Forum Diskusi Dapil Se Banyuwangi

Tinggalkan Balasan