Dr. Tengsoe Tjahjono Dorong Praktik Kreatif Tradisi Lisan dalam Pembelajaran Sastra

Dr. Tengsoe Tjahjono Dorong Praktik Kreatif Tradisi Lisan dalam Pembelajaran Sastra

Banyuwangi – indonetizen.id | Sesi Keempat Lokakarya Penulisan Sastra di UNTAG Banyuwangi Angkat Gagasan Kontekstualisasi Budaya Lokal di Sekolah
Banyuwangi, 28 Mei 2025 —

Memasuki sesi keempat, Lokakarya Penulisan Kreatif Sastra dan Pembuatan Produk Kreatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip yang berlangsung di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Banyuwangi menghadirkan Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. Dikenal sebagai dosen sekaligus pegiat literasi, Dr. Tengsoe membagikan gagasan mendalam tentang pentingnya memasukkan unsur tradisi lisan ke dalam praktik pembelajaran sastra secara kreatif dan kontekstual.

Melalui topik “Kontekstualisasi Tradisi Lisan dan Pengembangan Kreativitas dalam Pembelajaran Sastra,” ia menggarisbawahi bahwa nilai-nilai budaya lokal yang terkandung dalam cerita rakyat, legenda, maupun petuah lisan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi media belajar yang inspiratif dan relevan bagi siswa masa kini.

“Tradisi lisan tidak cukup hanya disimpan atau dihafalkan. Ia perlu diolah menjadi bahan belajar yang membangkitkan daya imajinasi dan empati peserta didik,” ujar Dr. Tengsoe dalam sesi pemaparan. Lebih lanjut, ia menawarkan pendekatan berbasis proyek (project-based learning) sebagai metode yang efektif untuk menjadikan warisan tradisi sebagai bagian dari kegiatan belajar yang menyenangkan. Peserta didorong untuk merancang pembelajaran sastra yang tidak terlepas dari akar budaya lokal, tetapi tetap menjawab tantangan zaman, termasuk dengan memanfaatkan media digital.
Puisi, cerita pendek, video naratif, hingga podcast menjadi contoh bentuk ekspresi yang bisa lahir dari tradisi lisan apabila dikemas dengan pendekatan kekinian.

Gagasan tersebut mendapat respons antusias dari para peserta lokakarya yang terdiri atas guru, mahasiswa, dan komunitas literasi. Diskusi berjalan hangat dan interaktif, menandakan besarnya antusiasme untuk menerapkan ide-ide tersebut dalam lingkungan pendidikan masing-masing.

Kegiatan ini sendiri merupakan hasil inisiatif HISKI Pusat yang bersinergi dengan Dana Indonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Diselenggarakan pula dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta kerja sama dengan Dewan Kesenian Blambangan, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), dan HISKI Komisariat Banyuwangi. Seluruh rangkaian acara masuk dalam program Festival Banyuwangi 2025 yang mengusung tema “Banyuwangi Kolo Semono.”

Dalam sambutannya, Ketua HISKI Pusat menegaskan peran strategis HISKI dalam mendorong pelestarian budaya yang adaptif. Ia menyampaikan ajakan kepada para sastrawan, seniman, dan pegiat budaya untuk menghidupkan serta mendigitalisasi tradisi lisan dan manuskrip sebagai bagian dari regenerasi literasi budaya Indonesia.

Dengan semangat membumikan sastra dalam praktik nyata, sesi keempat ini mempertegas bahwa pembelajaran sastra bukan hanya soal teks, tetapi tentang menghubungkan generasi muda dengan akar budaya mereka secara kreatif, inklusif, dan transformatif.

Tinggalkan Balasan