Implementasi Qurban Ramah Lingkungan dengan Bungkus Daun Jati di Kementerian Agama Banyuwangi: Upaya Kolaboratif Menuju Keberlanjutan

Implementasi Qurban Ramah Lingkungan dengan Bungkus Daun Jati di Kementerian Agama Banyuwangi: Upaya Kolaboratif Menuju Keberlanjutan

BANYUWANGI,—  indonetizen.id | Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi melaksanakan kegiatan penyembelihan hewan qurban pada Senin, 10 Juni 2025, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana kondusif, khidmat, dan terorganisasi, dengan total enam ekor sapi dan enam ekor kambing yang disembelih. Seluruh daging hasil penyembelihan didistribusikan kepada masyarakat kurang mampu serta warga sekitar lingkungan kantor Kemenag.

Salah satu aspek inovatif dalam pelaksanaan qurban tahun ini adalah penggunaan daun jati (Tectona grandis) sebagai pembungkus daging qurban, menggantikan kantong plastik konvensional. Selain itu, penerima manfaat dianjurkan membawa wadah sendiri dari rumah. Pendekatan ini dipandang sebagai strategi berbasis ekologi yang bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai dan mendukung prinsip zero waste.

Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi, H. Chaironi Hidayat, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ibadah qurban memiliki dua dimensi utama, yakni spiritual dan sosial. Ia menekankan pentingnya pelaksanaan qurban tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen peningkatan solidaritas sosial serta sarana untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan.

“Qurban adalah wasilah (perantara) untuk memperoleh keberkahan dari Allah SWT. Namun lebih dari itu, ia juga menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan dalam satuan kerja dan masyarakat luas,” ungkap Chaironi.

Menurutnya, penggunaan bahan alami seperti daun jati tidak hanya membawa nuansa tradisional, tetapi juga memiliki nilai fungsional dan ekologis. Daun jati diketahui memiliki struktur serat yang kuat dan permukaan lilin alami yang menjadikannya tahan terhadap kelembaban, sehingga cocok digunakan sebagai alternatif pembungkus pangan yang ramah lingkungan.

Respon masyarakat terhadap inisiatif ini juga tergolong positif. Salah satu penerima manfaat, Siti Rohmah, menyatakan bahwa pembungkusan daging dengan daun jati memberikan kesan alami, higienis, dan mengurangi limbah plastik.

“Rasanya seperti kembali ke zaman dahulu. Lebih alami dan aromanya segar,” ujarnya.

Secara teknis, panitia telah menyiapkan sistem distribusi berbasis kupon untuk memastikan penyaluran daging qurban berlangsung secara tertib dan adil. Seluruh pegawai Kemenag turut serta dalam proses penyembelihan dan pendistribusian dengan pendekatan gotong royong, yang sekaligus memperkuat ikatan institusional antarpegawai.

Kegiatan ini tidak hanya memfokuskan pada pemenuhan kewajiban ibadah, melainkan juga mengusung dimensi edukatif dan advokatif terhadap pengelolaan sampah. Berdasarkan kajian lingkungan, plastik sekali pakai menyumbang porsi signifikan dalam pencemaran darat dan laut. Oleh karena itu, substitusi plastik dengan material organik seperti daun jati merupakan salah satu solusi praktis yang dapat direplikasi dalam kegiatan serupa di instansi lain.

Sebagai kesimpulan, pelaksanaan qurban oleh Kemenag Banyuwangi tahun ini mencerminkan integrasi nilai-nilai agama, sosial, dan lingkungan. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat diarahkan untuk mendukung agenda pembangunan berkelanjutan (sustainable development), khususnya dalam hal pengurangan limbah plastik dan pelestarian ekosistem.

“Semoga praktik seperti ini menjadi inspirasi kolektif, bahwa ibadah tidak hanya memperkuat hubungan vertikal kepada Tuhan, tetapi juga tanggung jawab horisontal terhadap sesama dan alam semesta,” pungkas Chaironi.

Tinggalkan Balasan