DUGAAN GURITA BISNIS SERAGAM SMPN KEDIRI: Modus Kain Murah Kertosono dan Nyanyian Kepala Sekolah Soal Oknum Dinas Pendidikan
KEDIRI, INDONETIZEN.ID – Praktik komersialisasi atribut sekolah berkedok pengadaan kain seragam bagi siswa baru di Kabupaten Kediri semakin menunjukkan pola gurita yang terorganisir. Hasil penelusuran Indonetizen.id pada Rabu pagi (15/07/2026) mengungkap tabir mengejutkan mengenai dugaan pengkondisian satu pintu yang melibatkan oknum Dinas Pendidikan setempat.
Upaya konfirmasi awalnya dilakukan ke SMPN 2 Grogol guna mengklarifikasi aduan wali murid terkait tarikan biaya paket seragam sebesar Rp 1.850.000,-. Namun, Kepala Sekolah SMPN 2 Grogol sedang tidak berada di tempat.
Penelusuran informasi kemudian berlanjut ke SMPN 1 Grogol. Ditemui langsung oleh awak media pada Rabu (15/07/2026), Kepala Sekolah SMPN 1 Grogol, Setyo Wibowo, mengakui bahwa rata-rata siswa baru mendapatkan 5 setel seragam. Ketika dicecar pertanyaan mengenai alasan mengapa harga kain seragam di setiap sekolah berbeda-beda meski jumlah setelannya sama, Setyo berdalih hal itu karena faktor kualitas. “Tergantung kualitas kainnya,” ucap Setyo Wibowo berkilah.
Namun, kejanggalan mulai terasa saat Setyo ditanya mengenai berapa nominal pasti yang harus dibayar wali murid di SMPN 1 Grogol. Secara mengejutkan, sang Kepala Sekolah mengaku tidak tahu-menahu. “Saya tidak tahu karena saya tidak menanganinya,” ujarnya.
Kendati mengaku tidak menangani biayanya, Setyo justru mengetahui dengan sangat detail asal-usul kain tersebut. Ia membeberkan bahwa bahan kain seragam tersebut didatangkan dari sebuah toko di wilayah Kertosono, Kabupaten Nganjuk. “Di sana lebih murah dan bisa ngutang,” pungkasnya.
Benang merah dugaan monopoli lintas daerah ini semakin tebal saat tim Indonetizen.id meminta keterangan dari salah satu Kepala SMPN di Kecamatan Gampengrejo pada hari yang sama (15/07/2026). Kepala Sekolah di Gampengrejo tersebut mengonfirmasi pola yang persis sama: rata-rata sekolah membeli kain seragam di toko rekanan yang berada di Kertosono, Nganjuk.
Ketika awak media mengejar indikasi adanya pengondisian terpusat agar seluruh sekolah negeri membeli di satu toko rekanan yang ditunjuk, sang Kepala Sekolah enggan memikul beban sendirian. Ia langsung menunjuk sebuah nama oknum pejabat di internal Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sinyalemen ini memperkuat dugaan bahwa variasi harga seragam di tingkat sekolah hanyalah ujung dari permainan rantai pasok (supply chain) yang dikendalikan dari atas. Modus menggunakan toko di luar kabupaten (Nganjuk) diduga sengaja diadopsi untuk mengaburkan endapan keuntungan dan menghindari jerat pengawasan lokal.
Hingga berita ini diturunkan, Indonetizen.id masih terus berupaya mendapatkan konfirmasi resmi dari Kepala SMPN 2 Grogol serta oknum pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri.(Taufik hidayat)












