Petani di Dusun Bedali Mengeluh Kekeringan, Irigasi Diduga Dialihkan ke Tanah Kas Desa

Indonetizen.id, Malang – Para petani di Dusun Bedali Blok Tanjung, Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, menghadapi masalah serius di musim panen ketiga tahun ini. Pasalnya, aliran pengairan irigasi yang seharusnya mengairi sawah mereka diduga dibendung dan dialihkan ke tanah kas desa (TKD). Akibatnya, sawah-sawah petani di wilayah tersebut mengalami kekeringan parah yang berujung pada gagal panen. Kamis (/8/2024).

Patimah, salah satu petani di Blok Tanjung, mengungkapkan kekesalannya kepada wartawan. “Ada sekitar sepuluh orang lebih petani di Blok Tanjung yang pada musim panen ketiga kalinya ini gagal panen. Hal ini disebabkan oleh saluran air yang seharusnya mengalir ke sawah petani, malah dibendung dan dialirkan ke lahan tebu di tanah kas desa (TKD),” ujarnya.

Patimah menjelaskan, sekitar sepuluh bahu lahan petani terkena dampak kekeringan ini, membuat mereka kehilangan hasil panen yang seharusnya menjadi sumber penghasilan utama.

“Kami warga Bedali di musim panen ketiga kalinya ini merasa sangat prihatin. Kegagalan panen terjadi akibat ketidakadilan dalam pembagian jatah air dari kuwowo (pengatur pembagian air ke lahan sawah petani).

Air hanya dialirkan ke lahan tanah bengkok tanah kas desa (TKD) saja, bahkan ada saluran air yang seharusnya mengalir ke sawah petani malah dibendung dan dialihkan ke lahan tebu di tanah bengkok itu,” tambahnya dengan nada penuh kesal.

Patimah dan para petani lainnya berharap pihak terkait segera mengambil tindakan untuk membagi air irigasi secara adil, agar mereka bisa mendapatkan hasil panen yang layak.

Upaya untuk mendapatkan klarifikasi dari Kepala Desa Sukorejo tidak berhasil, karena yang bersangkutan tidak berada di tempat saat wartawan mencoba untuk menghubunginya.

Hanya Sekretaris Desa (Sekdes) yang bisa ditemui untuk memberikan tanggapan terkait keluhan para petani ini. Sekdes menjelaskan, “Itu akibat debit air yang berasal dari Sumber Sira yang dikelola oleh Dinas Pertanian berkurang. Untuk membesarkan aliran air tentunya tidak bisa, karena induknya dari sumber. Sehingga, hasil pertanian juga berkurang.”

Menanggapi tuduhan bahwa saluran air sengaja dibendung dan dialirkan ke tanah kas desa (TKD), Sekdes membantah dengan tegas.

“Tidak ada saluran air yang dibendung. Itu karena kebiasaan masyarakat saling membendung untuk mendapatkan air yang lebih banyak, seperti kucing-kucingan. Ketika air dialirkan, ada yang membendung dan dialirkan ke lahannya sendiri.

Maka, siapa yang paling kuat tidak tidur untuk mengairi lahannya sendiri, itu yang hasil panennya lebih banyak,” jelas Sekdes. Sementara itu, para petani masih menunggu solusi konkret agar mereka dapat menikmati air irigasi yang adil dan merata. (Fery)

Tinggalkan Balasan