Rapat Konsolidasi ISNU Eks-Karesidenan Besuki dan Probolinggo: Penguatan Peran Strategis Sarjana NU dalam Pembangunan Daerah
Banyuwangi, 24 Mei 2025 — indonetizen.id | Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan rapat konsolidasi dengan jajaran pengurus cabang dari wilayah eks-Karesidenan Besuki dan Probolinggo pada Sabtu (24/5), bertempat di ruang sidang khusus Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banyuwangi. Forum ini dihadiri oleh ketua, sekretaris, dan bendahara dari masing-masing Pimpinan Cabang (PC) ISNU, mencerminkan sinergi regional dalam memperkuat posisi ISNU sebagai badan otonom berbasis intelektual dalam struktur Nahdlatul Ulama.
Fajar Isnaini selaku panitia pelaksana menyampaikan bahwa meskipun persiapan kegiatan berlangsung dalam kurun waktu yang singkat, penyelenggaraan dapat berjalan lancar berkat partisipasi aktif seluruh unsur. “Kita menyaksikan semangat kolektif yang luar biasa dalam forum ini. Hal ini membuktikan bahwa kader-kader ISNU di wilayah timur Jawa Timur memiliki komitmen kuat dalam memperkuat struktur dan peran organisasi,” ungkapnya.
Abdul Aziz, Ketua PC ISNU Kabupaten Banyuwangi, mengungkapkan apresiasi atas mandat yang diberikan kepada Banyuwangi sebagai tuan rumah. Menurutnya, forum semacam ini bukan hanya menjadi ajang konsolidasi administratif, melainkan juga wahana strategis untuk membangun kolaborasi lintas daerah. “Kami berharap, forum ini dapat merumuskan langkah-langkah konkret yang menjawab kebutuhan aktual masyarakat dengan pendekatan keilmuan yang dimiliki ISNU,” jelasnya.
Dalam sambutan pengarahannya, Plt. Ketua PW ISNU Jawa Timur, Prof. Dr. H. Afif Hasbullah, menyampaikan pandangan historis dan normatif mengenai posisi ISNU dalam khazanah organisasi NU. Ia menggarisbawahi bahwa ISNU, meskipun secara kelembagaan relatif baru—dideklarasikan di Surabaya pada 19 November 1999, dan ditetapkan sebagai Banom NU dalam Muktamar ke-32 di Makassar tahun 2010 serta dilembagakan tahun 2012—memiliki potensi besar sebagai agen perubahan berbasis intelektual.
“Keberadaan ISNU tidak sekadar pelengkap struktural NU, tetapi justru merupakan mitra strategis dalam pembangunan masyarakat. Karena beranggotakan para sarjana dan intelektual Muslim, ISNU memiliki mandat moral dan epistemologis untuk merancang strategi pemberdayaan umat yang inklusif dan berkelanjutan,” terang Prof. Afif.
Lebih lanjut, Prof. Afif menegaskan bahwa ISNU perlu membangun ekosistem organisasi yang nyaman, adaptif, dan produktif. Hal ini penting agar ISNU dapat menjadi hub intelektual bagi kaum sarjana Nahdliyyin dalam menjawab tantangan zaman. Ia juga menyatakan kekagumannya terhadap capaian Kabupaten Banyuwangi dalam bidang pembangunan, yang menurutnya tidak lepas dari kolaborasi aktif berbagai elemen, termasuk organisasi keagamaan dan profesi. “ISNU harus turut serta dalam proses-proses seperti ini. Forum hari ini adalah kontribusi awal dalam upaya itu,” imbuhnya.
Rapat konsolidasi ini tidak hanya difokuskan pada pembahasan internal kelembagaan, tetapi juga menghadirkan forum diskusi terbuka antarcabang untuk merumuskan peran strategis ISNU dalam penguatan masyarakat sipil. Agenda forum mencakup penyelarasan program kerja, optimalisasi kaderisasi berbasis keilmuan, serta perluasan jejaring kemitraan dengan institusi pendidikan, pemerintahan, dan masyarakat.
Sebagai hasil dari kegiatan ini, diharapkan terbentuk konsensus regional yang mampu menjadikan ISNU sebagai lokomotif gerakan intelektual Nahdlatul Ulama di kawasan timur Jawa Timur. Forum ini juga menegaskan kembali pentingnya integrasi antara kecendekiaan dan keberagamaan sebagai fondasi strategis pembangunan sosial, ekonomi, dan kebudayaan yang berkeadilan.
Dengan berjalannya forum ini, ISNU meneguhkan dirinya bukan hanya sebagai entitas organisasi, melainkan sebagai pusat produksi pengetahuan dan gerakan transformasi berbasis nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.












